
Kab. Tuban (Humas)–Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban, Umi Kulsum, mengapresiasi kegiatan kokurikuler berbasis ekologi yang digelar siswa MAN 2 Tuban sebagai langkah nyata dalam mengintegrasikan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan potensi lokal. Umi Kulsum dalam sambutannya menilai kegiatan tersebut sebagai inovasi yang patut dikembangkan lebih luas.
Ia mendorong agar hasil karya siswa tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi mampu menembus pasar yang lebih luas. “Ini harus digarap serius. Tidak hanya tampil saat kegiatan, tetapi bagaimana produk ini bisa berkembang dan memiliki nilai jual. Kemasan dan kualitas harus terus ditingkatkan,” tegasnya. Ia juga menekankan bahwa kegiatan semacam ini dapat menjadi bekal masa depan siswa, sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal.
Pagi Rabu (29/4/2026), halaman Madrasah Aliyah Negeri 2 Tuban tampak berbeda dari biasanya. Deretan meja yang biasanya dipenuhi buku pelajaran, berubah menjadi etalase aneka olahan makanan berbahan dasar singkong yang menggoda selera.
Meja-meja ditata mengelilingi lapangan, menghadirkan suasana semarak dengan aroma singkong kukus, goreng, hingga olahan kue modern. Kegiatan yang mengusung tema “Kartini dan Alam, Kreasi, Aksi, dan Inovasi dalam Bingkai Ekologi” ini menjadi penanda dimulainya program kokurikuler berbasis ekologi Tahun Ajaran 2025/2026.
Acara diawali dengan apel yang diikuti seluruh siswa, guru, dan jajaran pimpinan madrasah di Jalan Raya Rengel–Bojonegoro, yang langsung dipimpin oleh Umi Kulsum.
Di tengah kegiatan, para siswa tampak antusias mempresentasikan karya mereka. Berbagai olahan singkong ditampilkan dengan sentuhan modern, lengkap dengan penataan menu yang menarik layaknya hidangan restoran. Selain itu, mural bertema perempuan dan alam menghiasi dinding, diiringi pembacaan puisi tentang Kartini dan lingkungan.
Kemeriahan semakin terasa dengan penampilan band siswa serta atraksi pencak silat yang memukau, lengkap dengan efek semburan api.
Kepala MAN 2 Tuban, Qomaruddin, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar lomba, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter siswa.
“Madrasah ini ingin mengukuhkan diri sebagai madrasah kokurikuler. Selain pelajaran wajib, pengembangan kapasitas dan keterampilan siswa harus benar-benar diperhatikan,” ujarnya.
Menurutnya, pemilihan singkong sebagai bahan utama didasarkan pada potensi lokal Tuban yang melimpah. Melalui kegiatan ini, siswa diajak melihat nilai lebih dari bahan sederhana menjadi produk bernilai jual.
“Kalau anak-anak bisa mengolah singkong menjadi produk bernilai ekonomi, mereka tidak hanya belajar memasak, tapi juga belajar kemandirian,” tambahnya.
Di balik kemeriahan acara, tersirat nilai penting tentang kepedulian terhadap lingkungan, penghargaan terhadap hasil pertanian, serta semangat inovasi generasi muda. Momentum Hari Kartini pun dimaknai tidak hanya sebagai peringatan sejarah, tetapi juga sebagai dorongan untuk berkarya dan mandiri.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dari hal sederhana seperti singkong, dapat lahir kreativitas dan inovasi. Di MAN 2 Tuban, pendidikan tidak hanya hadir dalam teori, tetapi juga dalam karya nyata yang berpotensi menjadi kebanggaan daerah di masa depan. (Lai)
Editor: Laidia Maryati
Sumber: Media Online Lentera Kata