Grebek Suro Dusun Kuthi Semarak, 500 Warga Padukan Tradisi dan Spirit Tahun Baru Islam 1448 H

Kab. Tuban (Humas) – Semangat kebersamaan dan pelestarian budaya mewarnai peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Dusun Kuthi, Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban. Ratusan warga memadati lokasi kegiatan “Grebek Suro” yang digelar pada Selasa tadi malam, sebagai wujud syukur sekaligus upaya menjaga tradisi warisan leluhur.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 18.00 hingga 23.00 WIB tersebut dihadiri Plt. Kepala KUA Tuban Akhmat Iswoyo, Penyuluh Agama Islam KUA Tuban Lailatul Rosyidah dan Qitbatin Nisa’, Pemerintah Desa Sumurgung, tokoh masyarakat, pengurus organisasi keagamaan, serta para ketua RT dan RW di wilayah setempat.

Rangkaian acara diawali dengan pawai ta’aruf yang diikuti warga dari berbagai lingkungan di Dusun Kuthi. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Yasin dan tahlil, lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW, sambutan, tausiyah keagamaan, hingga sarasehan budaya yang menjadi puncak peringatan Grebek Suro tahun ini.

Dalam sambutannya, Akhmat Iswoyo mengajak masyarakat menjadikan momentum Tahun Baru Islam sebagai sarana meningkatkan rasa syukur sekaligus mempererat kerukunan antarsesama. “Alhamdulillah, kita patut bersyukur karena masih diberi kesehatan, kebahagiaan, serta kehidupan yang ayem tentrem dan guyub rukun. Saya melihat masyarakat Dusun Kuthi memiliki semangat kebersamaan yang luar biasa. Kerukunan seperti ini harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tradisi Grebek Suro merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa yang telah berkembang sejak masa Kerajaan Mataram dan sarat dengan nilai kebersamaan. Menurutnya, peringatan bulan Muharram tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga momentum memperkuat keimanan dan ketakwaan.
“Momentum bulan Suro atau Muharram ini harus menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Tahun baru Islam hendaknya menjadi waktu untuk muhasabah, memperbaiki kekurangan, dan bertekad menjadi pribadi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya,” tuturnya.

Salah satu penyuluh agama Islam Qitbatin Nisa menceritakan, nuansa budaya dalam Grebek Suro semakin kuat melalui sarasehan yang menghadirkan narasumber dari Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Tuban, Arisman, serta budayawan Banyuwangi, Sumardi. “Keduanya mengulas sejarah, filosofi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Suro sebagai warisan budaya yang perlu terus dijaga oleh generasi muda,” ujarnya kepada Pranata Humas Laidia Maryati, Rabu (17/6/2026).

Selain khidmat, kegiatan juga berlangsung meriah dengan tradisi makan bersama. Warga secara gotong royong membawa berbagai hidangan khas, mulai dari nasi uduk, tumpeng, uduk putih dan biru, jajanan pasar, polo pendem, hingga aneka sajian tradisional lainnya untuk dinikmati bersama.

Kebersamaan begitu terasa sepanjang acara. Sekitar 500 warga hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga ramah tamah. Tradisi Grebek Suro pun kembali menjadi ruang silaturahmi yang memperkuat persaudaraan, menjaga kerukunan, sekaligus menumbuhkan rasa syukur dalam menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. “Grebek Suro bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga media mempererat silaturahmi, memperkuat persatuan warga, dan menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat,” demikian harapan yang mengemuka dari warga Dusun Kuthi. (Q.Nisa/lai)

Editor:Laidia Maryati

Share :