Kemenag Tuban Gelar Bimtek Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat, Perkuat Akurasi Arah Kiblat

Kab. Tuban (Humas) – Kementerian Agama Kabupaten Tuban menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat di Aula Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Tuban, Senin (6/7/2026). Kegiatan ini diikuti para Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), penyuluh agama Islam, serta perwakilan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Tuban sebagai persiapan pelaksanaan Rashdul Kiblat Serentak pada 15–16 Juli 2026.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban, Umi Kulsum, membuka kegiatan sekaligus meminta para penyuluh agama menjadikan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat sebagai bagian dari program kerja mereka. “Saya berharap kegiatan ini dimasukkan dalam program penyuluh. Mari menggerakkan lembaga keagamaan, tempat ibadah, masjid dan musala agar pelaksanaan Rashdul Kiblat dapat berlangsung serentak dan menjangkau masyarakat seluas-luasnya,” ujar Umi Kulsum.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Tuban, Mashari menjelaskan, bimtek tersebut merupakan bagian dari persiapan pelaksanaan Rashdul Kiblat Serentak di 1.448.000 titik di seluruh Indonesia pada 15–16 Juli 2026. “Kabupaten Tuban sendiri mendapat target sebanyak 8.000 titik pengamatan. Namun hingga saat ini jumlah pendaftar baru mencapai sekitar 500 lokasi,” ujarnya.

Menurut Mashari, masa pendaftaran dan sosialisasi berlangsung pada 1–8 Juli 2026. Padahal, jumlah masjid, musala, TPQ, pondok pesantren, madrasah, sekolah umum, hingga instansi pemerintah di Kabupaten Tuban diperkirakan mencapai sekitar 9.000 lokasi sehingga masih banyak yang belum terdaftar. “Target Kabupaten Tuban adalah 8.000 titik, sementara pendaftar baru sekitar 500. Kami mengajak seluruh pengelola masjid, musala, lembaga pendidikan, dan instansi untuk segera mendaftarkan lokasi pengamatan,” kata Mashari.

Dalam bimtek tersebut, Tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Kabupaten Tuban menyampaikan sejumlah materi teknis. Pemateri Ainul Yakin memaparkan sepuluh fakta unik mengenai fenomena matahari berada tepat di atas Ka’bah, mulai dari sejarah penamaan, nilai ibadah, hingga penjelasan astronominya.

Sementara itu, Nurpuat menjelaskan tata cara pendaftaran peserta melalui portal Rashdul Kiblat, mulai dari registrasi, login, hingga mengunggah hasil pengamatan melalui Google Drive yang kemudian dibagikan sesuai ketentuan.

Adapun pemateri ketiga, Kasdikin, memberikan solusi praktis bagi masjid dan musala untuk mempermudah pengukuran arah kiblat. Ia menyarankan agar dibuat lubang kecil di area tempat imam sehingga sinar matahari dapat masuk dan dimanfaatkan sebagai penunjuk arah saat fenomena Rashdul Kiblat berlangsung.

Rashdul Kiblat merupakan fenomena astronomi ketika matahari berada tepat di atas Ka’bah. Pada saat itu, bayangan benda yang berdiri tegak akan mengarah tepat berlawanan dengan kiblat, sehingga dapat dimanfaatkan umat Islam untuk menentukan maupun mengkalibrasi arah kiblat dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Terakhir, beserta bimtek diajak praktek langsung di lapangan. (Rifa/Lai)

Editor: Laidia Maryati

Share :