Dirjen Pendis Kemenag RI Apresiasi Pilot KBC di Tuban, Dorong Pendidikan Berbasis Cinta

v

Kab. Tuban (Humas) — Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Suyitno mengapresiasi implementasi pilot Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah Kabupaten Tuban. Menurutnya, inovasi yang dilakukan menjadi bagian penting dalam mendorong madrasah agar terus berkembang dan menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna bagi peserta didik.

Hal tersebut disampaikan Prof. Suyitno saat melakukan Kunjungan Pemantauan Bersama Implementasi Pilot KBC, dukungan INOVASI, serta refleksi bersama KBC di madrasah Kabupaten Tuban, Jumat (28/8/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan bersama Staf Khusus Bidang Pendidikan Kementerian Agama RI Farid Saenang, Ph.D., beserta tim. Rombongan disambut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban Umi Kulsum bersama jajaran serta tim Bidang Pendidikan Madrasah (Pendma) Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Prof. Suyitno menilai sepuluh madrasah di Kabupaten Tuban yang menjadi piloting KBC telah menunjukkan semangat inovasi dalam menerapkan nilai-nilai cinta dalam proses pendidikan.

“Saya sangat mengapresiasi sepuluh madrasah di Kabupaten Tuban yang menjadi piloting Kurikulum Berbasis Cinta. Inovasi seperti ini akan membantu madrasah untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya,” ujar Prof. Suyitno.

Ia menjelaskan, KBC merupakan penguatan terhadap kurikulum yang telah ada dengan pendekatan dan metode yang lebih relevan. “KBC ini merupakan kurikulum yang sudah ada, namun kita integrasikan dengan metode yang lebih baru. Yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai cinta itu benar-benar diterapkan dalam proses pendidikan,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Suyitno juga melakukan refleksi secara langsung dengan peserta didik. Ia memilih pendekatan nonformal untuk mengetahui sejauh mana implementasi KBC dirasakan oleh siswa.

“Ketika melakukan refleksi, saya melakukannya dengan cara nonformal. Yang saya tanyakan adalah anak-anak atau siswa, karena yang kita implementasikan KBC ini adalah kepada anak-anaknya,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan implementasi KBC perlu dilihat secara menyeluruh dengan melibatkan kepala madrasah, guru, siswa hingga orang tua. Dengan demikian, manfaat penerapan KBC dapat dirasakan dan diketahui oleh seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan.

“Menurut saya, testimoni akan menjadi sangat bagus apabila kepala madrasah, guru, siswa dan orang tua juga dicek bersama, agar semuanya bisa merasakan manfaatnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Minister Counsellor Human Resource and Governance, Tim DFAT dan penulis Kedutaan Australia, Paula, menyampaikan apresiasinya atas sambutan dan implementasi KBC di madrasah Kabupaten Tuban.

“Saya sangat senang dapat berada di Tuban hari ini. Saya mendapat sambutan yang besar dari madrasah di sini dan Kementerian Agama. Hari ini saya melihat bagaimana nilai-nilai KBC diterjemahkan dalam praktik nyata di madrasah,” tuturnya.

Menurut Paula, penerapan KBC menunjukkan bahwa pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun empati dan rasa hormat terhadap sesama.

“Upaya seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang empati dan rasa hormat terhadap sesama. Pemerintah Australia bangga bisa bermitra dengan Kementerian Agama dalam komitmen menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan berintegritas,” ujarnya.

Mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Lukman Hakim menyampaikan terima kasih kepada tim INOVASI yang selama kurang lebih satu tahun telah memberikan pendampingan kepada madrasah di Tuban.

“Terima kasih kepada tim INOVASI yang selama lima bulan ini telah mendampingi kami. Tadi sudah kita saksikan bersama, dan alhamdulillah sudah ada perubahan mindset,” ungkap Lukman.

Ia berharap pengalaman dan praktik baik dari tiga madrasah piloting tersebut dapat dikembangkan dan disebarluaskan ke madrasah lainnya di Kabupaten Tuban.

“Dari kegiatan ini kami sangat berharap mudah-mudahan kita bisa menggelorakan semangat ini ke madrasah yang ada di Kabupaten Tuban. Kami juga memohon arahan dan bimbingan agar dapat melanjutkan program ini dan terus berubah ke arah yang lebih baik,” tambahnya.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan Rapat Komite Pengarah Nasional Program INOVASI Fase-3 yang akan diselenggarakan pada September 2026 di Jakarta. Komite Pengarah yang terdiri dari Kementerian Agama, Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, dan INOVASI melakukan kunjungan pemantauan bersama di Kabupaten Tuban.

Dalam kunjungan tersebut, tim dibagi menjadi dua kelompok untuk mengunjungi MIN 1 Tuban dan MI Hidayatun Najah. Adapun 10 madrasah yang menjadi piloting KBC di Kabupaten Tuban adalah MIN 1 Tuban, MIS Hidayatun Najah Tuban, MI Ash Shomadiyah, MIS Al-Mahbubiyah,
MIS Futuh, MINU Hidayatun Najah, MIS Manbaul Ma’arif, MIS MIM IV Ulum Islamiyah,
MIS Islamic Internasional School BAS dan MIS Tahfidul Qur’an Al-Uswah.

Usai kegiatan pemantauan dan refleksi, rombongan melanjutkan agenda dengan Launching Omah Bahasa di MAN 1 Tuban. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Arskal Salim, Tenaga Ahli Menteri Agama Bidang Pendidikan Keagamaan Dr. Jojon Noviandi, Direktur KSKK Madrasah Kementerian Agama RI Prof. Nyanyu Khodijah, Direktur GTK Madrasah Kementerian Agama RI Dr. Fesal Musaad, serta Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi SDM Pendidikan dan Keagamaan Kemenag RI Dr. Mastuki. Sementara dari Kanwil Kemenag Jawa Timur hadir Ketua Tim, Syahril dan Najib. (Lai)

Editor:Laidia Maryati
Doc:Frida

Share :