


Kab. Tuban (Humas) – Tradisi “Kupatan” atau Lebaran Ketupat kembali menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan pasca-Idul Fitri, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, utamanya di Kabupaten Tuban. Tradisi ini umumnya dilaksanakan sekitar tujuh hari setelah Idul Fitri, tepatnya pada 8 Syawal, sebagai penutup rangkaian ibadah Ramadan dan puasa sunnah Syawal.
Menurut Laidia Maryati, Pranata Humas Kemenag Tuban, Kupatan bukan sekadar tradisi kuliner, melainkan sarat makna filosofis dan nilai spiritual. “Kupat dimaknai sebagai ‘laku papat’ atau empat tindakan, yakni Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Ia menjelaskan, bentuk ketupat yang segi empat memiliki arti “kiblat papat limo pancer”, yakni empat arah mata angin dengan satu pusat. Filosofi ini menggambarkan bahwa ke mana pun manusia pergi, pada akhirnya akan kembali kepada Allah sebagai Sang Pencipta.
Dari sisi simbolik, ketupat juga mengandung makna mendalam. Kata “ketupat” berasal dari ungkapan “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Anyaman janur yang membungkus ketupat melambangkan kerumitan kesalahan manusia, sementara isi nasi putih mencerminkan kesucian setelah saling memaafkan.
Tradisi Kupatan juga memiliki nilai sosial yang kuat. Masyarakat memanfaatkannya sebagai momen untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan tetangga, saling memaafkan, serta mempererat hubungan sosial. Selain itu, kegiatan berbagi makanan menjadi simbol kebersamaan yang kental dalam perayaan ini.
Hidangan khas yang disajikan dalam Kupatan antara lain ketupat dengan opor ayam, sambal goreng ati, dan sayur labu. Makanan tersebut biasanya dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan yang hangat.
Di sejumlah daerah, tradisi ini juga diramaikan dengan berbagai kegiatan seperti festival atau kirab ketupat. Bahkan, ada pula yang menggelar sedekah laut atau doa bersama sebagai bentuk rasa syukur.
“Nilai utama dari Kupatan adalah mengajarkan kerendahan hati, introspeksi diri, serta pentingnya memaafkan dan membuka lembaran baru dalam kehidupan,” tutup Laidia.
Dengan berbagai makna yang terkandung di dalamnya, tradisi Kupatan tetap lestari sebagai warisan budaya sekaligus sarana memperkuat nilai spiritual dan sosial di tengah masyarakat. (Lai)
Editor:Laidia Maryati