
Kab. Tuban (Humas) — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban terus mematangkan langkah menuju wilayah birokrasi yang bersih melayani. Guna memperkuat komitmen tersebut, Kemenag Tuban menggelar giat penguatan Tim Zona Integritas (ZI) dengan menghadirkan Kepala Kantor Kemenag Kota Malang, Achmad Shampton, sebagai narasumber utama di Aula Kemenhaj Tuban, Kamis (26/3/2026).
Kepala Kantor Kemenag Tuban, Umi Kulsum, dalam sambutannya mengakui bahwa perjalanan meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) memiliki tantangan besar. Berdasarkan evaluasi sebelumnya, aspek pelayanan publik dan hasil survei kepuasan menjadi dua komponen krusial yang perlu ditingkatkan secara signifikan.
“Membangun ZI adalah proses berkelanjutan yang menuntut konsistensi. Kehadiran Gus Shampton hari ini adalah kesempatan berharga bagi kita untuk menyerap strategi sukses dari Kota Malang dan mengadaptasinya sesuai karakteristik di Tuban,” ujar Umi Kulsum.
Dalam paparannya, Achmad Shampton menekankan, pembangunan Zona Integritas tidak bisa dilakukan secara individu, melainkan harus secara kolektif dan terintegrasi. Ia menyebut bahwa salah satu faktor penting dalam keberhasilan WBK/WBBM adalah pengelolaan Kantor Urusan Agama (KUA).
“Zona Integritas itu tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus bersama-sama. Salah satu faktor penentu adalah KUA. Biasanya, Kemenag yang berhasil meraih WBK/WBBM adalah yang jumlah KUA-nya sedikit dan lokasinya berdekatan, sehingga lebih mudah dikelola dan dikondisikan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan profesionalisme kerja dengan nilai-nilai agama. Ia mengutip hadis yang menyatakan bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan profesional. Menurutnya, profesionalitas bukan sekadar tuntutan organisasi, tetapi juga merupakan perintah moral dalam agama.
Selain itu, Shampton juga memberikan sejumlah masukan strategis bagi Kemenag Tuban, di antaranya pentingnya membangun komunikasi publik yang terbuka, memperkuat inovasi berbasis evaluasi, serta menerima kritik sebagai bagian dari perbaikan.
Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan media sosial dan website institusi. Menurutnya, website harus mencerminkan kinerja lembaga, bukan didominasi oleh figur pimpinan semata. “Website itu adalah cermin kantor, bukan cermin kepala. Kinerja harus ditampilkan sebagai kerja tim, bukan individu, saya sudah melihat medsos Kemenag Tuban dan brandingnya sudah cukup bagus,” tegasnya.
Di akhir sesi, ia mendorong Kemenag Tuban untuk membuka ruang seluas-luasnya bagi kritik dan masukan dari masyarakat. Bahkan, ia menyarankan pembentukan forum komunikasi publik sebagai wadah interaksi antara lembaga dan masyarakat.
“Kemenag bukanlah raja yang mengatur segalanya. Kebijakan yang dibuat harus membuka ruang partisipasi masyarakat, tentu dengan masukan yang konstruktif,” pungkasnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ajang penting bagi Kemenag Tuban dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan tata kelola birokrasi, sehingga mampu meraih predikat WBK dan WBBM di masa mendatang. Acara ini diikuti oleh Tim ZI Kemenag Tuhan, seluruh staf dan Ketua APRI Kabupaten Tuban.(Lai)
Editor: Laidia Maryati