Kupas Tuntas “Dapur” Ibadah, Kasi PAIS Tuban ‘Bedah’ Fiqih Puasa di Sekolah Rakyat Terintegrasi 18


Kab. Tuban(Humas) – Ibadah tanpa ilmu ibarat berjalan di kegelapan; melelahkan namun rawan tersesat. Premis tajam ini menjadi latar belakang Sekolah Rakyat Terintegrasi 18 Tuban saat menggelar Pondok Ramadan 1447 H. Tak tanggung-tanggung, mereka menghadirkan “arsitek” kebijakan pendidikan Islam daerah, Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (Kasi PAIS) Kemenag Tuban, Imam Syafi’i, untuk memberikan materi vital: Fiqih Puasa Praktis.

Bertempat di ruang kelas SRMA Terintegrasi 18 Tuban, suasana religius terasa kental sejak pukul 08.00 WIB. Dalam paparannya, Imam Syafi’i menekankan, puasa bukan sekadar kompetensi menahan haus dan lapar, melainkan ketaatan administratif dan spiritual kepada Sang Pencipta. Ia membedah risalah fiqih praktis yang mencakup poin-poin krusial yang sering dianggap remeh namun berakibat fatal pada keabsahan ibadah.

Akurasi Niat: Menegaskan perbedaan manajemen niat antara Mazhab Syafi’i (setiap malam) dan Mazhab Malik (sekaligus di awal bulan) sebagai jaring pengaman bagi umat.
Filter 5 Lubang: Memberikan edukasi teknis mengenai batasan memasukkan sesuatu ke lima lubang tubuh (mulut, hidung, telinga, jalan depan, dan belakang) yang secara otomatis memutus status puasa seseorang.

Rukhsah (Keringanan): Menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang memudahkan, bukan membebani, melalui rincian 9 golongan yang diperbolehkan tidak berpuasa, mulai dari musafir hingga orang sakit.

Melalui dokumentasi kegiatan, terlihat para siswa menyimak dengan saksama saat Imam Syafi’i memaparkan materi melalui media digital. Materi ini dianggap sangat relevan untuk memangkas kebiasaan “ibadah ikut-ikutan” tanpa dasar hukum yang jelas.
“Mengetahui hal-hal yang membatalkan puasa adalah ilmu yang amat penting bagi setiap orang yang berpuasa,” tegas materi tersebut. Diskusi juga menyentuh aspek sosial melalui pembahasan Fidyah, yakni kompensasi berupa 1 mud (6,7 ons) makanan pokok bagi mereka yang tidak mampu secara fisik untuk berpuasa.
Rangkaian Kegiatan yang Padat
Pondok Ramadan ini tidak berhenti pada teori. Berdasarkan rundown acara, kegiatan yang berlangsung pada 9-10 Maret 2026 ini juga diisi dengan berbagai kegiatan komunal yang menggugah empati dan kedisiplinan:
Bagi-bagi Takjil: Implementasi nyata dari semangat berbagi.
Manajemen Ibadah Berjamaah: Mulai dari Shalat Maghrib hingga Tarawih bersama.
Peringatan Nuzulul Qur’an: Sebagai puncak refleksi turunnya pedoman hidup manusia.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama yang menunjukkan solidaritas antara birokrasi kementerian, tenaga pendidik, dan siswa, menandakan bahwa sinergi adalah kunci utama keberhasilan pendidikan karakter di Bumi Wali. (IS/lai)

Share :